Sejarah Yayasan Pendidikan Eben Haezer GKI Salatiga

Mengenal perjalanan panjang Yayasan Pendidikan Eben Haezer dari awal hingga kini.

Foto SMP Kristen 2 Lama, Dokumentasi YPE

Awal tumbuh dan berkembangnya sekolah Eben Haezer tidak lepas dari pergolakan politik saat itu, dengan adanya penyerbuan tentara Belanda ke wilayah Salatiga maka pada tanggal 22 Juli 1947 penduduk Salatiga diungsikan ke luar kota, yang sebagian besar tertampung di Solo dan Yogyakarta. Rombongan pengungsi baru bisa kembali ke Salatiga secara bertahap mulai tanggal 23 Maret 1948. Karena berbagai sebab, sekembalinya ke Salatiga anak-anakpun tidak langsung mendapatkan sekolah.

Melihat situasi seperti ini tergeraklah hati Ny. Lo Khoen Giok untuk menolong mereka dengan cara memberi pelajaran di rumahnya. Awal mulanya yang dimaksud hanya terbatas pada bekas muridnya, namun anak lain yang ikut datang juga tidak ditolaknya. Hari demi hari jumlah murid makin bertambah hal ini diketahui oleh BS Tan Ik Hay yang kemudian membahas bersama dengan bekas gurunya Tn. H.J. Bar, pada waktu itu menjabat Kepala Dinas Pengajaran Jawa Tengah.

Dari Masa ke Masa

Atas persetujuan Kepala Dinas Pengajaran dibantu dengan Sdr. S Pasaribu selaku inspecteur maka pada tanggal 01 Oktober 1948 dapatlah dibuka Hollands Chinese Zendingsschool menggunakan gedung Zendingsschool di jalan Tumenggungan 47 (Sekarang Jl. Sukowati Salatiga).

Sebagai Kepala Sekolah ditunjuklah DP Tn. Pen, sedang tenaga pengajarnya antara lain: Ny. Lo Khoen Giok, Ny. Haensel, Sdr. Lie Tjoei Pho, Sdr. Nie Liang Tjwan, dan Ny. Bhe Siok Djien.

HOLANDS CHINESE ZENDINGSSCHOOL

Foto Perintis SD Kristen III/IV, Dokumentasi YPE

Dengan terjadinya penyerahan kedaulatan dari pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia, bahasa Belanda yang semula menjadi bahasa pengantar diganti dengan Bahasa Indonesia. Demikian juga dengan perubahan nama pada sekolah diganti menjadi SEKOLAH RAKYAT VI KERISTEN TIONGHOA.

Sementara itu Tn. Pen pulang ke Nederland dan guru-guru yang lain minta berhenti mengajar, proses belajar dan mengajarpun sedikit terganggu, namun berkat kesigapan BS Tan Ik Hay berhasil menarik Sdr. Lie Tik Bie yang waktu itu menjadi kepala Sekolah Rakyat VI Masihi Poncol Semarang untuk memimpin sekolah kita dan dibantu oleh: Sdr. Liem Kiet Nio, Ny. Liem Pik Ghee, serta Sdr. Astiah sehingga proses belajar dapat berjalan dengan tenang.

Pada tahun 1950 kelas V adalah kelas tertinggi dengan 6 orang murid yaitu: Ie Kiong Nio, Koo Hiang Nio, Kwa King Lian, Kwee Ngo Swie, Liem Biauw Tjwan, dan Oei Liang Kwie. Usia mereka telah melampaui batas untuk melanjutkan ke kelas VI, karena itu 4 orang melanjutkan dan mengikuti test masuk di Sekolah Lanjutan Pertama dan diterima di akhir tahun 1950.

SEKOLAH RAKYAT VI KRISTEN TIONGHOA

Sedangkan 2 orang lagi yaitu Ie Kiong Nio dan Koo Hiang Nio diminta berhenti oleh orang tuanya. Angkatan pertama kelas VI mencapai hasil 62,5% lulus ujian masuk SLP, yang kedua 87,5% dan sejak tahun 1954 memperoleh lulusan 100%. Selain menjadi juara sekolah, sekolah Rakyat VI Kristen Tionghoa beberapa kali menghasilkan bintang pelajar dari SD se-wilayah Salatiga.

Foto SR. VI Keristen Tionghoa, Dokumentasi YPE

Tiap tahun pelajaran baru, jumlah murid makin bertambah. Hal tersebut salah satu bukti bahwa masyarakat mulai menaruh perhatian pada sekolah kita. Atas kebaikan Sdr Kho Kong Jauw, Sekolah Taman kanak-kanak dapat dibuka dan ditampung di rumahnya. Dengan melakukan penyekatan-penyekatan sehingga dapat ditampung 20 murid. Namun berkat perantara Tn. Jac Van der Waals bisa mendapat pinjaman dari Nederland untuk membangun sebuah gedung baru terdiri dari 6 kelas terletak di belakang tanah yang akan dibangun gereja. Akhir tahun 1953 Sekolah pindah dari Jl. Kotamadya 47 (Jl Sukowati) ke Jalan Solo (sekarang Jendral Sudirman 111 B Salatiga).

GEDUNG BARU

Foto Taman Bermain KB-TK Kristen 03, Dokumentasi YPE

Sejalan dengan diubahnya nama Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee menjadi Gereja Kristen Indonesia, maka nama sekolah diganti. Secara formal berada di bawah Yayasan Perguruan Kristen, dan saat itu di Salatiga sudah mempunyai Sekolah Rakyat dengan nama SD Kristen I dan SD Kristen II, maka dipilihlah nama SD Kristen III.

SEKOLAH DASAR KRISTEN III

Foto Guru SD Kristen III, Dokumentasi YPE

Setiap tahun pelajaran baru murid kelas satu jumlahnya selalu melampaui target. Saat itu kelas I harus dijadikan 4 kelas, dan berkembang menjadi kelas paralel sampai kelas VI. Penilik sekolah menyarankan untuk mengubah kelas paralel tersebut menjadi sekolah tersendiri. Maka pada tahun 1965 berdirilah SD Kristen IV.

SEKOLAH DASAR KRISTEN IV

Foto Guru SD Kristen IV, Dokumentasi YPE

Atas usul Sdr. Lie Tik Bie pada tahun pelajaran 1954, komisi mulai membuka kelas SMP guna menampung anak-anak lulusan SD Kristen III dan SD Kristen IV. Kelas tersebut diselenggarakan pada waktu pagi dengan mengambil tempat di ruang rumah di Jl. Tuntang 36 (sekarang Jl. Diponegoro). Pengajarnya pun terdiri dari tenaga sukarela yaitu: Sdr. Lie Tjoei Dho, Lie Tik Bie, Oen Boen Tien, Oen Tjoen Hing, BS Tan Ik Hay dan sebagai pemimpin sementara ditunjuk Sdr. C. Tan Kwie Hwa.

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KRISTEN II

Foto Guru SMP Kristen 2, Dokumentasi YPE

Atas usul Sdr. Lie Tik Bie pada tahun pelajaran 1954, komisi mulai membuka kelas SMP guna menampung anak-anak lulusan SD Kristen III dan SD Kristen IV. Kelas tersebut diselenggarakan pada waktu pagi dengan mengambil tempat di ruang rumah di Jl. Tuntang 36 (sekarang Jl. Diponegoro). Pengajarnya pun terdiri dari tenaga sukarela yaitu: Sdr. Lie Tjoei Dho, Lie Tik Bie, Oen Boen Tien, Oen Tjoen Hing, BS Tan Ik Hay dan sebagai pemimpin sementara ditunjuk Sdr. C. Tan Kwie Hwa.

Karena letaknya dirasakan agak jauh, maka ruang kelas pindah ke rumah Sdr. Ho Ting Wat di jalan Kotapraja. Seiring waktu, murid semakin bertambah, dan kelas semakin banyak. Kemudian atas persetujuan Sdr. Ong Jan Koen, dipakailah paviliunnya di Jalan Jendral Sudirman 109. Seiring perjalanannya, komplek tersebut menjadi milik sekolah. Dengan demikian berdirilah Sekolah Menengah Pertama Kristen yang kita sebut SMP Kristen II.

Perkembangan sekolah tidak selalu berjalan mulus. Saat itu, gedung sekolah masih jauh dari kata layak, sedangkan kelas dan murid semakin bertambah. Akhirnya sekolah memutuskan mengusahakan gedung baru untuk memenuhi keinginan masyarakat.

Doa itu pun terwujud. Sekolah mendapat sebidang tanah yang terletak di belakang SD Kristen III/IV. Namun, sekolah kembali menghadapi banyak kendala sehingga pembangunan gedung mangkrak lebih dari satu setengah tahun. Mendengar kabar tersebut, banyak dermawan dan orang tua murid mulai bersama-sama mendukung pembangunan sekolah. Pembangunan pun dapat dilanjutkan hingga selesai.

Sepulang dari pengungsian GKI Salatiga merawat GKI Kring Ambarawa, atas prakarsa BS Tan Ik Hay pada tahun 1954 dimulai dengan penyelenggaraan sekolah dan berkembang menjadi TK, SD, SMP dan SMEA secara formal berada dibawah SPAK Semarang, setelah meningkat pada kedewasaan akhirnya GKI Ambarawa lepas dari GKI Salatiga.

CABANG AMBARAWA

Foto Lulusan tahun 1953, Dokumentasi YPE

Seiring dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, pendirian sekolah-sekolah negeri dan swasta makin menjamur. Disisi lain keberhasilan program Keluarga Berencana dari Pemerintah berdampak pada berkurangnya jumlah penduduk usia sekolah. Semua itu mengakibatkan persaingan pengelolaan pendidikan semakin tajam. Sekolah-sekolah swasta ataupun negeri bersaing untuk mendapatkan murid, pengelola sekolah sadar berkurangnya murid akan mempengaruhi anggaran pengelolaan sekolah. Demikian pula dengan kondisi sekolah GKI, mulai dirasakan adanya kekurangan murid sehingga mempengaruhi program pengembangan sekolah.

Menyadari akan permasalahan tersebut, Komisi Sekolah GKI, pengelola sekolah-sekolah GKI (Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak Kristen 3, Sekolah Dasar Kristen 03 dan 04, Sekolah Menengah Pertama Kristen 02) memandang perlu untuk mengubah lembaga pengelola sekolah menjadi bentuk Yayasan. Adapun tujuan dari perubahan tersebut adalah untuk lebih memperluwes gerak pengelolaan sekolah sehingga mempercepat pengambilan kebijakan-kebijakan, tetapi kesemuanya itu tetaplah dalam kerangka sebagai badan pembantu Majelis Jemaat GKI Salatiga.

Tepatnya pada tanggal 1 November 1989 pendirian Yayasan tersebut resmi berdiri dengan nama YAYASAN PENDIDIKAN EBEN HAEZER.

Yayasan Pendidikan Eben Haezer